Rumah dan Dongeng Para Dewa. Mahameru.

Pengantar Dongeng Sebelum Bangun

Belum genap seminggu jelang Hari Raya Idul Fitri saya sudah ribut menyiapkan buat mudik. Ah, bukan, buat naik gunung. Kemana saya? Puncak tertinggi tanah Jawa. Semeru, 3676 mdpl. Puncak sakral yang dipercaya dihuni para dewa-dewa yang menjaga tanah Jawa.

Image

Kalian pasti ngiri? Oh Gak ya. Yaudah.

(Ok! Kalau yang lain mudik ke desa itu klise, coba sesekali mudik ke gunung. Iya sih, mau mudik ke mana coba. Kampung Halaman siapa? Pengen lah mudik jauh gitu. Sebenernya Kakek-Nenek saya ada di desa, etapi nenek sudah meninggal dari dulu masih jaman SMP, jaman harga bensin masih Rp. 2.500 jadi kalau naik bemo masih 500 Rupiah gitu. Sepeda motor gak terlalu banyak kayak sekarang. HUBUNGANNYA. Nah kalau (alm) Kakek malah sejak Ibu saya umur 2 tahun udah dipanggil sama yang punya langit. Terus akhirnya ziarah lagi ke makam (alm) Kakek setelah udah segede (tua) ini, untung makamnya masih terawat. Jadi pengen nangis kan. KOK CURHAT. Terus orang tua saya itu anak tertua, *eh gak juga, yang penting gak mudik*, jadi masak mudik ke yang lebih muda. Kakek-Nenek dari ayah di Sidoarjo juga. Eh masak iya mudik antardesa. KOK DITERUSIN. Ah, sudah kita fokus. Serius.)

Anggota ekspedisi antara lain:

Mukti Winarno (Biasa dipanggil Cak Bonsai/Cacak, Doi Sesepuh gunung, Insyallah penunggu gunung kasih jalan kalau Cacak lewat. Punya jenggot mirip militan al Qaedah. Paling penting Cacak selalu pakai SENDAL JEPIT MERK SWALLOW kemana pun naik gunung. Semacam alergi pake sepatu atau gak ada sepatu yang cukup. Cuma Tuhan dan Cacak yang tahu. Ampun, Cak.)

Burhanudin (Doi masih keponakan Cacak, kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Pinter ngaji. Pertama kali naik gunung. Informasi masih itu yang diinget, pelaku susah diinterogasi.)

Anjar Kuncoro (Nama yang tersebut di samping adalah maling. Bukan ya. Tapi tetep layak digebukin. Suka naik gunung. Baik hati. Sombong dikit. Kata orang turunan China—Wamena. Dia hidup di @anjarkuncoro Tanya aja sana. Wajahnya cukup ngeselin untuk dijelasin. Sampai 2013 masih anggota Mapala, Mahasiswa Paling Lama, maklum doi korban revisi ganti judul skripsi sama dosen. Berat buat move-on. So far, very pukpuk-able person.)

Kuncoro Fajar Wiroantoyo (Berbadan paling subur kala itu dan kala sekarang, untung aja tinggi badan 178.000 mm jadi, tambah serem. Semua yang pertama kali ketemu, merasa semacam engg… Kuncoro itu… kayak Anggota Bareskrim, Tinggi, Gede, Dominan item. *glek* kadang hidup di @wiroantoyo21 si Kunna ini juga pemecah kebuntuan di kala capek jalan, suka kasih umpan jokes masa kini dan jaman Kolonial. Juventini suka film Warkop DKI.)

Arif Abdillah (saya yang nulis cerita ini, profil saya segera mention @riphabdillah. Aku kan pemalu.^^) (*DIKEPLAK)

IMG_0509

Ekspedisi ini namanya Ekspedisi Bluron. Cacak yang kasih nama ini, secara etimologis artinya GAK NGERTI. Tujuan utama ekspedisi itu RENANG di Ranu Kumbolo, puncak Semeru Cuma numpang lewat. Kalau sampai puncak ya syukur kalau gak ya udah, motivasi macam apa ini. Udah nurut aja, ini sesepuh yang kasih saran.

Terima kasih sudah membaca! Aku jadi malu.

Aku terlalu drama deh, kamu pikir aku lelaki macam apa suka nulis drama.Ini pasti konspirasi zionis

Cukup.

INI BAGIAN SERIUS

EKSPEDISI BLURON

(Rumah dan dongeng para dewa, Mahameru.)

Rabu, 7 September 2011

Ekspedisi Bluron dimulai dari Terminal Bungurasih sebagai check point pertama. Kami berlima berangkat pukul 21.30 WIB naik bus AKAS Ekonomi Jurusan Surabaya—Malang. Sampai di Terminal Arjosari Malang sekitar Pukul 23.10 WIB. Kelas ekonomi harga Rp. 8.000. Lama perjalanan bila dibandingkan dengan Patas AC hampir sama dengan kisaran tarif Rp. 17.000—20.000. Armada bus Jurusan Surabaya—Malang beroperasi selama 24 Jam dan berangkat setiap 30 menit atau bergantung jumlah penumpang.

Check point ke-dua, Terminal Arjosari—Tumpang. Pukul 00.00 WIB kami beralih ke Lyn Putih Jurusan Tumpang. Semua Lyn di terminal Arjosari ada selama 24 Jam nonstop, bergantung penumpang yang ada. Tarif normal ke Tumpang Rp. 6.000—10.000. Sebelum berangkat konfirmasikan terlebih dahulu harga kepada sopir.

Sesampai di Tumpang kami menginap di rumah teman kami di sekitar Pasar Tumpang. Bagi pendaki lain di sekitar Pasar Tumpang terdapat pos perijinan pendakian yang menyediakan shelter/camp untuk menginap.

Note: Kami sarankan untuk menginap di Tumpang terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Pos Ranu Pani. Mengingat perjalanan dari Surabaya (luar kota) ke Malang sudah cukup melelahkan. Selain aklimatisasi (adaptasi) cuaca, tubuh juga perlu istirahat sebelum pendakian dimulai.

DAY 1

Kamis, 8 September 2011

Hari Ke-dua destinasi kami selanjutnya adalah Pos Ranu Pani yang sudah memasuki Kabupaten Lumajang. Ranu Pani merupakan Desa Terakhir di kaki Semeru yang menjadi akses jalur pendakian selama ini.

Pukul 06.45 WIB kami harus bergegas bangun untuk berangkat ke Ranu Pani sebelum matahari semakin menyengat. Hal lain yang mewajibkan kami berangkat pagi karena truk sayur yang menuju Ranu Pani kebanyakan berangkat antara pukul 06.00—08.00 WIB. Kami memilih menumpang truk yang biasa membawa petani/sayuran ke jalur Tumpang—Ranu Pani. Tarif naik truk sayur antara 30.000—35.000 rupiah. Transportasi yang dapat dipilih yakni menggunakan hardtop/4WD yang biasanya memasang tarif Rp. 400.000 sekali jalan. Kami lebih menyarankan menyarankan menumpang truk sayur. Selain harga lebih murah, bak belakang truk lebih luas dan nyaman bila dibandingkan dengan hardtop/4WD. Ditambah lagi Tupang—Ranu Pani memakan waktu perjalanan sekitar 1,5 jam.

Kami sampai di Pos Perijinan Ranu Pani pukul 08.20 WIB. Hal pertama yang segera kami siapkan adalah sarapan. Ada beberapa warung nasi yang berjualan di sekitar pos Ranu Pani. Setelah mengisi perut, kami segera mengisi formulir dan melengkapi persyaratan lain. Syarat yang paling sering dilupakan adalah SURAT KETERANGAN SEHAT dari dokter dan FOTO KOPI KTP. Jika kita lupa pihak TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) tidak akan memberikan ijin untuk pendakian. Solusinya kita bisa turun lagi ke Puskesmas terdekat, yakni di Tumpang. Namun, bisa saja kita memaksa tetap mendaki Semeru tanpa persyaratan tersebut tetapi dianggap pendaki illegal, artinya apabila ada kejadian yang tidak diinginkan TNBTS tidak bertanggung jawab.

Total biaya perijinan satu tim pendakian sebesar Rp. 45.000 terdiri dari:

Karcis masuk               Rp. 1.250

Asuransi                      Rp. 2.000

Kamera                        Rp. 5.000

Materai                        Rp. 6.000

Ranu Pani–-Ranu Kumbolo

Setelah semua perijinan siap, kami sudah segera melakukan pendakian. Rata-rata beban ransel kami sekitar 15-20 kg. Kami akan membuka camp di Ranu Kumbolo, 2400 mdpl. Jarak ke Ranu Kumbolo Sekitar 10 km. Kondisi jalur yang kami lewati membelah hutan hujan tropis sehingga sepanjang perjalanan sangat teduh dan rimbun. Kondisi jalur cenderung didominasi jalanan yang landai, meskipun beberapa kali ada tanjakan yang mempunyai kemiringan yang lumayan. Terdapat 5 pos peristirahat yang kami lewati hingga sampai ke Ranu Kumbolo. Kami memulai pendakian pukul 10.50 dan tiba di Ranu Kumbolo 16.05 dengan status trekking sangat santai dan hampir setiap Pos beristirahat antara 5—40 menit.

Sebelum Pos V kita sudah bisa melihat kecantikan Ranu Kumbolo. Warna air yang hijau tua akan mencekat siapa saja yang pertama kali melihat langsung. Kami selalu merasa sangat kecil di hamparan Ranu Kumbolo. Surga yang jatuh di Mahameru.

IMG_0136

Ranu Pani—Pos I 10.50—12.00 Istirahat 15 menit
Pos I—Pos II 12.15—12.40 Istirahat 20 menit
Pos III—Pos IV 13.00—13.50 Istirahat 40 menit
Pos IV—Pos V 14.30—15.30 Istirahat 5 menit
Pos V—Ranu kumbolo 15.35—16.05 Buka camp

DAY 2

Jum’at, 9 September 2011

Semua pendaki disambut dengan matahari terbit Ranu Kumbolo. Itulah alasan kami tidak malas untuk bangun, meskipun suhu saat gelap masih di bawah 10 derajat. Kami segera membuat sarapan dan packing untuk melajutkan pendakian. Tujuan kami selanjutnya Kalimati. Sepanjang Ranu Kumbolo hingga Kalimati perjalanan didominasi savana dan hutan jati. Hanya ada satu tanjakan yang akan kami lewati yakni tanjakan cinta dengan kemiringan hampir 90 derajat. Kami memulai pendakian pukul 11.10 dan tiba di Kalimati 14.50 WIB.

Savana yang luas, Edelweiss, Puncak Mahameru semua ada di sini.

IMG_0297

Kami buka camp di Kalimati. Salah satu sember air ada di Sumbermani sekitar 1 km dari Kalimati. Mata air di Sumbermani merupakan resapan air tanah yang menetes dari akar pohon di atasnya. Sumber ini terus mengalir sepanjang tahun meskipun debit air tidak besar.

Suhu Kalimati sangat dingin, mampu membuat beku botol air mineral yang diisi air. Kami lupa memasukkan beberapa botol air minum di luar tenda. Hasilnya air yang ada di dalamnya menjadi es batu. Suhu sudah bisa mencapai 0 derajat bahkan minus.

DAY 3

Sabtu, 10 September 2011

Kami akan menuju tanah tertinggi dataran Jawa. Pendakian terberat adalah Kalimati—Puncak Mahameru. Jalur yang kami lalui akan terus menanjak hingga puncak. Summit attack kami mulai pukul 01.15 dini hari. Shelter pertama adalah daerah Arcopodo. Daerah tersebut merupakan sebuah lahan datar yang biasa digunakan untuk membuka camp sebelum puncak. Sebenarnya Arcopodo adalah basecamp yang bisa dipilih karena yang paling dekat dengan puncak. Namun saran saya sebaiknya memilih di Kalimati, karena di Arcopodo tidak ada sumber air dan kemiringan tanjakan yang sangat menguras tenaga dengan beban ransel yang dibawa.

Batas vegetasi Gunung Semeru adalah Kelik. Setelah kawasan ini tidak ada lagi vegetasi tanaman. Dahulu ditandai dengan adanya cemoro tunggal yakni sebuah pohon cemara tunggal yang tinggi menjulang, yang telah tumbang.

Pada bagian ini adalah pendaki akan dihadapkan pada kerucut Mahameru. Kondisi jalur pendakian adalah pasir. Maju satu langkah, mundur tiga langkah. Artinya setiap kita menanjak satu langkah, bias dipastikan kita akan kemabali melorot lagi karena sifat pasir yang tidak padat sulit untuk menopang berat tubuh.

Setinggi apapun kita mendongakkan kepala ke atas seolah-olah puncak tak akan pernah kelihatan. Pada kondisi seperti inilah mental seorang diuji ketika kondisi fisik sudah dituntut untuk bekerja ekstrakeras. Ketika seseorang mampu mengelola pikiran positif mereka maka mental akan terlatih dengan sendirinya. Maka nikmatilah setiap tanjakan Mahameru. Anggota tim kami sudah mulai tercecer sejak di Kelik. Setiap orang punya cara yang berbeda terkait dengan stamina dan pola istirahat.

Catatan paling penting usahakan setiap anggota tim membawa logistik masing-masing. Paling vital adalah air minum. Banyak sekali pendaki yang mengalami dehidrasi karena kehabisan stok air minum, termasuk saya beberapa meter sebelum puncak. Jangan lupa membawa masker karena debu sepanjang pendakian.

Akhirnya setelah bosan jalan merangkak, pukul 09.00 WIB saya dan Anjar Kuncoro menjadi anggota tim terakhir yang sampai puncak Mahameru. Seketika saya sujud mencium tanah tertinggi dan kemudian disambut jabat tangan dan pelukan sesama pendaki lain yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang kala itu. Momen yang paling mengharukan.

Samudera awan, langit biru dan kehilangan kata-kata untuk bercerita.

IMG_0378

Perjalanan turun kami mulai pukul 10.10 dan tiba kembali di Kalimati pukul 13.30. Kami istirahat cukup lama di Arcopodo sekitar 30 menit. Selanjutnya kami segera makan, istirahat, mandi, packing karena kami akan kembali buka camp ke Ranu Kumbolo.

Kalimati—Ranu Kumbolo hanya butuh waktu 2 jam perjalanan. Kami berangkat pukul 19.25 dan tiba pukul 21.20 WIB. Kami menyarankan untuk kembali ke Ranu Kumbolo setelah dari puncak agar recovery stamina tubuh lebih optimal. Hal ini dikarenakan esok hari kami harus melakukan perjalanan turun ke Ranu Pani.

DAY 4

Minggu, 11 September 2011

Tujuan ekspedisi ini tercapai. Pagi pukul 09.00 semua anggota tim berenang di Ranu Kumbolo. Meskipun matahari sudah terik, suhu air masih sangat dingin. Saat subuh tenda kami masih dilapisi kristal es tipis. Bisa diperkirakan suhu dibawah 5 derajat.

IMG_0217

Kami melewati jalur pendakian yang berbeda ketika pulang. Kami memilih jalur Gunung Ayak-Ayak. Kontur yang harus kami lewati yakni menanjak ke Puncak Ayak-Ayak kemudian jalur akan terus menurun hingga Ranu Pani. Hanya beberapa pendaki saja yang mengetahui jalur ini. Biasanya jalur ini digunakan masyarakat Desa Ranu Pani untuk mencari hasil hutan. Jalur Ayak-Ayak sangat kami sarankan untuk perjalanan turun karena lebih cepat dan kontur tanah cenderung menurun menuruni bukit hingga Ranu Pani.

IMG_0518

Ranu Kumbolo—Ranu Pani kami berangkat pukul 10.55 WIB dan sampai di Pos Ranu Pani 15.05 WIB.

Seperti perjalanan berangkat; kami menggunakan truk sayur, Lyn Putih kembali ke Terminal Arjosari. Kami kehabisan bus Jurusan Malang—Surabaya karena selalu penuh, maklum karena hari tersebut hari minggu dan masih nuansa lebaran. Bus terakhir dari Malang ke Surabaya berangkat pukul 23.00 WIB. Sehingga kami harus menginap di Terminal Arjosari. Menyenangkan.

Day 5

Senin, 12 September 2011

Bus pertama pukul 03.00 dan kami tiba di Surabaya 05.00 WIB. Ekspedisi Bluron selesai.

Cerita seperti ini belum akan berakhir. Kami yang selalu merindukanmu. Mahameru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s